Seputar Perikanan: Pembenihan Ikan Patin

Dalam dunia perikanan ikan patin dikenal sebagai komoditi yang berprospek cerah. Selain rasa dagingnya yang lezat, ikan patin memiliki beberapa kelebihan lain misalnya ukuran perindividunya besar. Ikan patin cukup potensial dibudidayakan di berbagai media pemeliharaan yang sebagaimana jenis ikan air tawar lainnya seperti mas, tawes, dan lele. Media pemeliharaa kolam, keramba bahkan jala apung dapat digunakan untuk memelihara ikan patin.
Budidaya ikan patin meliputi beberapa kegiatan. Secara garis besar kegiatan ini dibagi menjadi dua, yaitu : kegiatan pembenihan dan kegiatan pembesaran. Kegiatan pembenihan umumnya masih dilakukan di Balai benih ikan milik pemerintah dan jarang dilakukan oleh masyarakat.Kegiatan pembenihan merupakan upaya untuk menghasilkan benih pada ukuran tertentu, sedangkan kegiatan pembesaran merupakan kegiatan untuk menghasillkan ikan yang siap dikonsumsi. Media pembesaran ikan patin berbeda-beda sehingga kegiatan persiapan media pembesaran sangat tergantung pada jenis media yang hendak dimanfaatkan.

SARANA PEMBENIHAN

Pembenihan Skala Rumah Tangga

Usaha pembenihan ikan patin skala rumah tangga biasanya berskala kecil sehingga kebutuhan akan peralatan kelengkapannya pun biasanya dipilih yang sederhana dan mudah diperoleh.

1) Wadah

  1. Akuarium, sebagai tempat penetasan telur dan pemeliharaan larva ikan patin.
  2. Botol galon air mineral yang biasa dipasang di dispenser dapat digunakan sebagai wadah penetasan  telur.
  3. Bak atau kolam pemeliharaan induk.
  4. Bak pemberokan, digunakan untuk menyimpan atau menempatkan induk hasil seleksi dari kolam   pemeliharaan induk.
  5. Bak inkubasi, merupakan bak untuk menyimpan induk ketika mau disuntik, sudah disuntik, dan menunggu waktu ovulasi (penetasan telur).
  6. Bak penampungan cacing.

2) Peralatan lain

  1. Aerator
  2. Water heater atau pemanasa air
  3. Timbangan gantung
  4. Karung terigu
  5. Kain lap
  6. Spuit atau alat suntik
  7. Bak plastik
  8. Gelas
  9. Bulu ayam
  10. Serokan ikan (scope net)
  11. Ember atau waskom
  12. Selang plastik
  13. Pompa air
  14. Sumber listrik

Pembenihan Skala Besar (Bisnis)

Sarana utama yang diperlukan dalam usaha pembenihan skala besar adalah wadah pemeliharaan. Wadah pemeliharaan ini dapat berupa kolam, bak, atau aquarium, tergantung peruntukannya.

1) Kolam

Kolam yang harus dimiliki oleh sebuah unit pembenihan ikan patin skala bisnis yaitu kolam induk dan kolam pemdederan.

  1. Kolam induk, berfungsi sebagai tempat pemeliharaan induk sekaligus pematangan gonadnya.
  2. Kolam pendederan, berfungsi sebagai tempat atau wadah pemeliharaan benih sampai ukuran fingerling atau gelondongan.

2) Bak

Bak atau kolam kecil yang diperluka yaitu bak pemberokan, bak inkubasi, bak penampungan cacing, bak penampungan benih, dan bak penetasan telur.

PENANGANAN DAN PEMILIHAN INDUK

Dalam pembenihan ikan patin, penanganan induk yang tepat harus dilakukan, baik meliputi pemilihan induk, pemberokan, penimbangan, penyuntikan sampai pada pengeluaran telurnya. Dalam pemilihan induk, untuk melihat atau memilih induk, induk harus dittangkap dulu. Cara penangkapannya harus hati-hati agar tidak menyebabkan resiko seperti stres, lecet, jatuh, membentur dinding, dan sebagainya.

Pemilihan induk betina yag telah siap kawin (telurnya sudah matang) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara visual (tanpa alat bantu) dan dengan alat bantu

1) Memilh induk dengan cara visual .

Langkah-langkahnya :

  1. Induk ikan ditangkap pada bagian pangkal ekor kemudian diangkat dari dalam air.
  2. Badan ikan dibalik, lalu perhatikan besar kecilnya perut. Perut yang buncit kearah dubur merupakan salah
  3. satu ciri induk yang telah matang gonad.
  4. Perhatikan pula warna kulit di sekitar genitalnya. Apabila warnanya kemerahan, berarti telur sudah     matang.
  5. Yang terakhir, rabalah bagian perutnya. Apabila lembek, itu juga merupakan salah satu ciri telur sudah  matang gonad

Memilih induk menggunakan alat bantu

Alat bantu yang digunakan biasanya berupa selang kanulasi (kateter), cawan kaca bening, larutan transparan, kertas milimeter, blok, lampu senter dan lain-lain.

Cara menentukan kematangan telur sebagai berikut :

  1. Induk ditangkap pada bagian pangkal ekor, kemudian diangkat dari dalam air.
  2. Badan ikan dibalikkan, lalu masukkan selang kateter ke saluran telur dengan hati-hati sampai menyentuh telur.
  3. Sedotlah selang tersebut untuk mendapatkan contoh telur. Contoh telur tersebut diukur diameternya, bila memungkan gunakan mikroskop. Jika tidak ada dapat menggunakan kertas milimeter. Induk yang dianjurkan dipilih adalah induk dengan diameter telurnya rata-rata 0,9 mm.
  4. Cara lain adalah letakkan contoh telur tersebut di atas cawan kaca bening kemudian diberi larutan transparan. Setelah itu, letakkan cawa di atas lampu pijar atau senter 10 watt. Amati posisi inti telur. Induk yang dipilih bila telurnya sebagian besar (80%) mempunyai inti telur yang sudah berada atau mendekati dinding telur.

Adapun pemilihan induk jantan yang siap kawin lebih mudah dilakukan. Caranya dengan melakukan pengurutan dari arah perut kebagian anusnya secara perlahan. Apabila keluar cairan berwarna putih (sperma) berarti ikan tersebut telah siap dikawinkan.

 PROSES PEMIJAHAN

Secara umum, pemijahan ikan dibedakan atas pemijahan alami dan pemijahan buatan. Pemijahan buatan sering dilakukan pada ikan patin (Pangasius pangasius) maupun jambal (Pangasius sutchi). Ikan patin sulit memijah di kolam atau di wadah pemeliharaan dan termasuk ikan yang kawin musiman.

Dalam pemijahan buatan, induk patin yang hendak dipijahkan bisa berasal dari hasil pemeliharaan atau hasil penangkapan. Dan sebaiknya induk yang akan dipijahkan dipelihara secara khusus di dalam sangkar terapung. Selama pemeliharaan ini, iduk ikan diberi makanan khusus yang banyak mengandung protein.

Meskipun dipijahkan secara buatan dengan suntikan ekstrak kelenjar hipofise, syarat utama dari keberhasilan pemijahan ini adalah induk yang dipijahkan harus matang kelamin.

Adapun ciri-ciri induk patin yang sudah matang gnad dan siap dipiahkan adalah sebagai berikut

1) Induk Betina :

  • Umur 3 tahun.
  • Ukuran 1,2 – 2 Kg.
  • Perut mmbesar kearah anus.
  • Perut terasa empuk han halus bila diraba.
  • Kloaka membengkak dan berwarna merah tua.
  • Kulit pada bagian perut lembek dan tipis.
  • Kalau disekitar kloaka ditekan, akan keluar beberapa butir telur yang bentuknya bundar dan besarnya  seragam.

2) Induk Jantan :

  • Umur 2 tahun.
  • Ukuran 1,5 – 2 Kg.
  • Kulit perut lembek dan tipis.
  • Bila diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih.
  • Kelamin membengkak dan berwarna merah tua.

Dalam pemijahan ikan patin. ikan patin yang sudah disuntik dilepaskan di kolam pembenihan untuk menunggu pasangan induk patin kawin dengan sendirinya. Pemijahan denga suntik ini masih harus dibantu lagi dengan penguruta (stripping), yaitu perut diurut pelan-pelan dari bagian depan (dada) ke arah belakang denga menggunakan jari tengah atau jempol.

Jika sudah waktunya, yaitu dekat dengan tanda-tanda ovulasi atau sekitar 8 – 12 jam dari penyuntikan yang kedua induk betina ditangkap dengan menggunakan kain hapa. Begitu juga dengan induk jantan. Siapkan baskom beremail yang bersih.

Cara yang akan dilakukan ini dikenal sebagai methode dry stripping atau methode kering. Perut Induk betina diurut pelan-pelan ke arah belakang dan telur ynag keluar ditampung dalam piring beremail tersebut. Kemudian telur dan sperma diaduk sampai rata dengan menggunakan bulu ayam selama sekitar 0,5 menit. Selanjutnya, ke dalam campuran telur dan sperma tersebut dituangkan air bersih sedikit demi sedikit sambil terus diaduk selama sekitar 2 menit. Kemudian air dibuang dan diganti dengan air yang baru dan dibilas. Pembilasan dilakukan 2 samapi 3 kali hingga sisa sperma dan sebagian gelembung minyak pada telur berkurang.

 PENETASAN TELUR

Untukkeberhasilan penetasan telur ikan patin, bak penetasan harus dipersiapkan betul.

Langkah-langkahnya meliputi :

  • Bak pemijahan dicuci bersih dan dikeringkan.
  • Hapa dipasang untuk menetaskan telur.
  • Kolam diisi dengan air bersih.
  • Untuk menghindari timbulnya jamur maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur,  antara lain dengan emolin atau Blitz-ich dengan dosis 0,05 cc/l. Setelah itu, aerator ditempatkan pada bak penetasan agar keperluan oksigen larva dapat terpenuhi.
  • Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif rendah diperlukan heater (pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang relatif stabil.
  • Dalam proses penetasan, telur disebarkan merata kedalam hapa yang telah disiapkan sebelumnya. Telur ini dijaga agar jangan sampai menumpuk karena akan mengakibatkan telur menjadi busuk.Untuk itu telur disebar dengan menggunakan bulu ayam. Di bak penetasan ini telur yang telah dibuahi akan berkembang sedikit demi sedikit menjadi larva.

PEMELIHARAAN LARVA

Benih yang berumur 1 hari dipindahkan ke dalam aquarium berukuran 80 cm x 45 cm x 45 cm. Setiap aquarium diisi dengan air sumur bor yang telah diaerasi. Kepadatan penebaran ikan adalah 500 ekor per aquarium. Sampai benih berumur satu hari belum diberi makanan tambahan dari luar karena masih mempunyai cadangan makanan berupa yolk sack atau kuning telur. Pada hari kedua dan ketiga baru benih itu diberi makanan berupa emulsi kuning telur ayam yang direbus. Selanjutnya benih ikan diberi makanan moina (Moina cyprinacea) atau yang populer dikenal sebagai kutu air dan jentik-jenti nyamuk.

Larva dipelihara di aquarium hingga berumur 15 hari. Setelah berumur sekitar 17 – 18 hari, benih dijarangkan di kolam pendederan yang lebih luas dengan menjaga kondisi lingkungan, makanan yang cukup, serta kualitas airnya.

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan oleh Zainal Arifin (1990) benih patin yang dipelihara pada air dengan kadar salinitas 4 permil dan akan memiliki derajat kelangsungan hidup yang lebih baik, yaitu 87,8 % dan 85,7 %. Sementara benih yang dipelihara di dalam air yang bersalinitas 0 permil dan 12 permil mempunyai derajat kelangsungan hidup masing-masing hanya 73,3 % dan  72,3 %.

PEMANENAN

Karena pemeliharaan ikan patin ini berorientasi komersial maka setelah ikan patin mencapai ukuran konsumsi dapat segera dipanen. Keputusan inipun harus didasarkan pada survei pasar, yaitu ukuran ikan patin yang banyak diminati dan harga jualnya paling tinggi.

Lama pemeliharaan untuk mencapai ukuran konsumsi itu tergantung pada ukuran ikan yang ditebarkan. Makin besar ukuran ikan yang ditebarkan, maka semakin singkat masa pemeliharannya.

Beberapa tahap dalam proses pemanenan ikan patin dilkukan dengan cara berikut :

  1. Persiapkan wadah penampungan ikan hasil pemanenan. Wadah dapat berupa jaring apung yang lebih kecil dari pada wadah budidaya. Wadah ini untuk menampung ikan sementara.
  2. Lakukan pemanenan dengan segera.
  3. Ruang gerak ikan dipersempit.
  4. Ikan yang sudah terkumpul di pojok dapat ditangkap dengan menggunakan serok bertangkai panjang.
  5. Ikan hasil pemanenan ini dimasukkna ke dalam wadah lain, misalnya ember atau bak fiber glass.

 

visit: hemorrhoidcreaminfo

Seputar Perikanan: Sharif Minta Kapal Asing Sitaan Segera Dimanfaatkan Untuk Nelayan

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C.Sutardjo menginginkan agar kapal-kapal ikan ilegal hasil sitaan dari nelayan asing segera dapat dihibahkan kepada nelayan demi meningkatkan kontribusi ekonomi dari sektor perikanan.
“Namun, kendala yang ditemui dalam pemanfaatan kapal sitaan bagi nelayan dan kalangan pendidikan dikarenakan masih lambannya penyelesaian dan penanganan barang bukti,” kata Sharif saat meninjau kapal-kapal perikanan rampasan di Stasiun Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (SDKP)  di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Sungai Rengas, Kalimantan Barat (Kalbar), Jumat (11/4).

Upaya Sharif ini memiliki beberapa kendala, diantaranya kondisi kapal yang telah memiliki putusan berkekuatan hukum tetap (inkracht) kebanyakan telah rusak bahkan tenggelam karena proses hukum yang cukup memakan waktu lama.
“Kapal hibah itu tidak bisa langsung digunakan karena harus diperbaiki dahulu karena lamanya proses pengadilan sehingga kapal menjadi rusak,” ungkapnya.

Sharif menuturkan, biaya perbaikan kapal merupakan tanggung jawab pemerintah daerah yang mendapatkan hibah. Oleh karena itu, ia menuturkan sebaiknya kapal ikan ilegal hasil sitaan segera dimanfaatkan demi meningkatkan kesejahteraan nelayan serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan.Dalam Pasal 76C ayat (5) UU No.45/2009 tentang Perubahan atas UU No. 31/2004 tentang Perikanan disebutkan bahwa kapal pelaku illegal fishing yang dirampas untuk negara dapat dilelang atau dihibahkan kepada kelompok nelayan.

Proses lelang kapal rampasan harus dilakukan dengan harga yang layak dan hasilnya dijadikan sumber pendapatan Negara bukan pajak (PNBP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan sebagian hasilnya dapat digunakan untuk peningkatan kesejahteraan nelayan.

Dirjen PSDKP Syahrin menjelaskan dalam memproses penegakan hukum di bidang perikanan dijalankan melalui tiga tahap yakni, tahap penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan.

Diakui Syahrin, masih lambannya penanganan terhadap Anak Buah Kapal (ABK) non yustitia akan dapat berdampak sosial dan membebani Anggaran Pembelanjaan Negara (APBN).

“Untuk menanggulangi pencurian ikan oleh nelayan asing, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mengambil langkah koordinatif lintas institusi dengan TNI Angkatan Laut , Polair, TNI AU dan Bakorkamla. Selain itu dengan memfasilitasi pengembangan dan pembinaan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas),” jelas Syahrin
Sementara itu, Kepala Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Pontianak Bambang Nugroho mengatakan, masih ada lima kapal hibah yang belum diambil oleh penerima karena persoalan perbaikan kapal.“Kelima kapal yang belum diambil itu masing-masing milik Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, Provinsi Gorontalo, dan Provinsi Kalimantan Barat,” jelasnya

Sebagai informasi kapal rampasan di Stasiun PSDKP Pontianak, tercatat sebanyak 65 kapal masih terdapat di UPT Ditjen PSDKP ini. Kapal-kapal tersebut merupakan kapal pelaku
illegal fishing yang diproses sejak tahun 2008 sampai dengan yang terkini. 21 kapal telah memperoleh putusan tetap (inkracht),  19 kapal proses hukum Kasasi, 11 kapal proses hukum Banding, 5 kapal proses pelimpahan perkara ke Kejaksaan dan 9 kapal hasil tangkapan terakhir dalam proses Penyidikan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perikanan Stasiun PSDKP Pontianak.

Stasiun Pengawasan SDKP Pontianak yang dikunjungi Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C.Sutardjo merupakan salah satu Unit Pelayanan Teknis (UPT) Ditjen PSDKP yang didukung oleh 24 satuan kerja dan pos pengawasan yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.

Sumber: http://kkp.go.id/index.php/arsip/c/7748/Sharif-Minta-Kapal-Asing-Sitaan-Segera-Dimanfaatkan-Untuk-Nelayan/

Seputar Perikanan: TIPS Merawat Arwana agar Sehat dan Gesit

Ikan Arwana

Setiap akuarium, sebaiknya hanya ada seekor arwana saja (soliter), sebab tidak mudah bagi seekor arwana untuk hidup berdampingan dengan ikan sejenisnya. Untuk mendapatkan ikan arwana yang berkualitas dan sehat tentunya dibutuh kondisi dalam akuarium yang nyaris sama dengan habitat aslinya. Makanan harus cukup dan diberikan secara teratur, kualitas air juga terkontrol dengan baik dan diberi obat-obatan agar tidak tercemar oleh zat-zat kimia yang beracun.

Kondisi Akuarium
Siapa pun yang memelihara arwana pasti dengan bangga akan menempatkan ikannya di kuarium terbaik. Agar keanggunan itu terpantul maksimal, maka hanya seekor arwana saja dalam satu akuarium. Jangan meletakkan akuarium di dekat dinding (tembok) apalagi sampai menempel. Sebab bila arwana melihat serangga seperti kecoa atau cecak di dinding, ia akan melompat dan menyeruduk dinding kaca aquarium, sehingga bisa luka. Perhitungkan besar akuarium dengan besar ikan, agar ikan bisa bergerak bebas dan meluncur di ruangan yang cukup. Beri penerangan yang memadai. Untuk mengontrol suhu air (27-30 derajat Celcius), sebaiknya dipasang termometer di dinding akuarium dan ujungnya tercelup ke air. Ukur pH sekurangnya seminggu sekali.

Memberi Makan
Meskipun tidak ada patokan, sebaiknya arwana diberi makan 3 – 4 kali sehari. Dibutuhkan 8-10 ekor jangkrik sehari. Sebelum diberikan, kaki belakang jangkrik yang bergerigi dipotong dulu, agar tidak menggores kerongkongan arwana. Harus diusahakan agar makanan tidak tersisa di aquarium. Jangkrik, kelabang, kecoa dan udang, mengandung zat karoten dan kitin yang bisa memberi efek sisik yang indah, cerah dan mengkilap pada arwana.

Kualitas Air
Selain suhu dan pH, maka kualitas air juga dijaga dengan membuang kotoran air yang berasal dari kotoran ikan itu sendiri dan sisa makanan. Dengan saringan, kotoran bisa diangkat, sedangkan kotoran yang mengendap di dasar akuarium disedot dengan selang. Melakukannya harus pelan-pelan agar ikan tidak stres akibat air berguncang hebat. Setiap tiga bulan akuarium dikuras total dan kaca harus bebas dari lumut, dan sabuni dinding akuarium dan bila sudah, keringkan dengan sinar matahari, agar jamur dan bibit penyakit mati. Air baru dalam akuarium harus diendapkan dulu 24 jam sebelum ikan dimasukkan kembali ke akuarium. Kandungan oksigen dalam air harus dijaga dengan memasang aerator yang sekaligus berfungsi sebagai pompa dan saringan kotoran.

Menggabung Arwana dalam Satu Akuarium
Yang ideal dua ekor arwana dicampur ketika masih kecil. Namun bila sudah dewasa umumnya bisa asalkan akuarium diberi sekat kaca. Bila kedua ikan terlihat marah dengan membuka mulut lebar-lebar, berarti keduanya tidak akur. Bila dalam seminggu tidak ada perubahan, berarti mereka tidak cocok. Ambil ikan yang lain, lakukan cara serupa, bila tidak memperlihatkan kemarahannya, berarti cocok, pelan-pelan kaca sekat dilepas. Amati seksama. Bila keduanya tidak saling mengejar. Berarti mereka bisa hidup damai.

Pakan
Setiap minggu, seekor arwana diberi makanan tambahan 2-3 ekor kadal yang tidak terlalu besar dan setiap dua minggu diberi tiga ekor kelabang. Kelabang atau lipan ini termasuk makanan favorit arwana, sehingga harus hati-hati memberikannya. Jika setiap hari diberi kelabang, maka arwana akan enggan memakan jangkrik atau kodok sekali pun. Dia hanya mau makan kelabang.
Namun begitu, seekor ikan arwana memburu kelabang di dalam air adalah sebuah atraksi menarik di dalam akuarium Anda. Karena kelabang mampu bergerak sangat cepat meskipun di dalam air, maka arwana pun harus mempertontonkan ’’kemahirannya” berburu makanan. Ia akan meliuk-liuk dan terus mendesak kelabang, sampai akhirnya bisa menangkap dan menelannya.
Arwana juga mau makan ikan hidup. Umumnya di Indonesia diberikan ikan mas dan sepat yang masih anakan. Namun harus berhati-hati, sebab bukan mustahil ikan membawa bakteri dan penyakit itu juga akan menjangkiti arwana. Udang mati pun disukai arwana, namun untuk pemeliharaan di akuarium, sebaiknya tidak usah diberikan, sebab akan membuat air akuarium keruh dan sisa makanan itu akan mudah membusuk dan menimbulkan penyakit bagi arwana.
Agar arwana tidak juling jangan menyebarkan makanan sekaligus ke dalam akuarium. sebab akan membingungkan arwana dan matanya akan menatap ke segala arah. Berikan jangkrik atau kelabang satu persatu, sehingga ikan hanya akan memburu satu mangsa saja.
Sebenarnya arwana juga memakan kecoa, cicak, laron atau belalang, sebagai selingan jangkrik. Namun, arwana jangan terlalu sering diberi makan cecak, matanya tidak melotot atau tersembul ke luar.
Agar arwana tetap sehat dan berkualitas, yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga air akuarium tetap bersih sehat dan cocok untuk habitat arwana. Maka dari itu, dibutuhkan beberapa obat untuk menjernihkan air dan menjaga agar kondisi akuarium cocok sebagai habitat arwana. Obat-obatan ini umumnya sudah dikemas dalam bentuk jadi, sehingga bisa langsung dibeli di pedagang ikan hias dan mencampurkannya ke air akuarium sesuai dosis yang dianjurkan.

Penyakit
Penyebabnya terbagi dua, yakni organisme nonparasiter dan parasiter. Organisme parasiter yang berasal di virus, bakteri, jamur, cacing atau protozoa. Sedang yang nonparasiter seperti faktor lingkungan, makanan dan keturunan. Namun pada kenyataannya, serangan kedua jenis penyebab penyakit itu sulit dibedakan.
Ada ciri-ciri khas ikan arwana yang teserang penyakit, baik akibat dari parasiter maupun nonpasrasiter, yakni terlihat pasif dan lemah, cenderung berenang di permukaan air, nafsu makan menurun, sulit bernapas, tubuh ikan tidak licin, karena selaput lendir berkurang, sehingga ikan mudah ditangkap. Tanda lainnya, pada bagian dada terjadi pendarahan dan sisik rusak, sirip punggung pecah-pecah.
Faktor lingkungan yang menyebabkan ikan sakit antara lain, pH air. Fluktuasi pH air ini dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti terdapatnya gas CO2 di air. Kemudian perubahan suhu air yang secara tiba-tiba juga sangat mempengaruhi kesehatan ikan. Selain itu berkurangnya jumlah oksigen di dalam air dan adanya gas beracun seperti CO2, amoniak dan polusi air juga akan mengganggu kesehatan ikan. Kemudian faktor makanan, seperti sudah disinggung di atas tadi, memberi makanan ikan segar akan riskan, sebab ikan bisa membawa penyakit. Lalu faktor keturunan juga membawa masalah pada arwana, seperti sisik yang tidak bagus, punggung tidak lurus atau albino dan kembar siam.
Organisme parasiter dapat menimbulkan gejala-gejala infeksi kutu ikan, insang busuk, bintik putih, cacar dan tuberkolosis, terinfeksi jamur Saprolegnia dan Achlya, bakteri perusak sirip dan penyakit gatal.
Bila kita melihat betapa indah dan anggunnya ikan arwana di akuarium, apalagi ketika ia mengejar mangsanya, kita akan terpesona dan kagum. Namun untuk itu, arwana juga membutuhkan perawatan yang saksama dan hati-hati. Sebab banyak jenis penyakit yang siap ’’menerkamnya”.

Seputar Perikanan: Budidaya Bandeng Gantikan Masa Emas Udang Windu

bandeng, windu

Tak ada pilihan lain bagi petani tambak di Indramayu selain mencari aman dari ancaman kerugian. Barangkali istilah itu pantas terlontar petani tambak di sejumlah kecamatan di Indramayu yang mengaku tak lagi “ngoyo” untuk meraih untung besar dalam budidaya udang windu atau paname yang sebelumnya menjadi primadona pendulang dolar.

Era 90-an merupakan masa keemasan bagi petambak udang windu di Indramayu. Dihasilkan ratusan bahkan miliaran rupiah setiap kali panen. Namun semua itu saat ini hanya kenangan. “Bagi kami tinggal kenangan. Dugaan menurunnya kualitas air laut pantai utara Indramayu akibat pencemaran, menyebabkan kini budidaya udang nyaris hanya tinggal kenangan,tutur Drs Nono Sudarsono tokoh pengusaha tambak Desa Babadan kepada Pelita.

Berbagai cara telah dilakukan petambak udang di Indramayu untuk kembali memperoleh untung dari usaha udang windu atau paname. Namun seolah kontra produktif masih berusaha meraih untung justru malah buntung. Pasalnya, biaya besar untuk perlakukan intensifikasi tambak, berakhir dengan kematian udang secara dini. “Petambak sekarang sebagian besar memilih budidaya bandeng, dirasa jauh lebih aman meski keuntungannya tak seperti udang windu,” tandasnya.
Berdasarkan pemantauan Pelita saat ini ribuan hektar lahan budidaya bandeng di Indramayu cukup bertahan di tengah lonjakan harga pakan maupunpersaingan komoditas perikanan lainnya. “Lumayan kalau kita serius dalam satu hektar kita bisa menghasilkan hingga 5 ton bandeng, meski selisih keuntungan tidak terlalu besar,” tutur Ahmad Sujai salah seorang petambak yang kini beralih budidaya bandeng.

Tercatat lebih dari 15.000 hektar lahan budidaya perikanan yang tersebar di empat kecamatan di Indramayu meliputi Kecamatan Indramayu, Losa-rang, Pasekan, Sindang menjadi wilayah sentra budaya pertambakan di Indramayu. Bagi petani tambak, lesunya bisnis sibungkuk udang windu belakangan ini tak menyurutkan petani tambak untuk tetap memanfaatkan kawasan pesisir pantai utara Indramayu untuk dijadikan lahan mencari nafkah.

Sumber: http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=196:budidaya-bandeng-gantikan-masa-emas-udang-windu&catid=52:berita

Seputar Perikanan: BUDIDAYA IKAN DI DANAU MANINJAU PERLU SINERGI DENGAN PARIWISATA

Kegiatan budidaya ikan di danau Maninjau dengan menggunakan  keramba jaring apung ( KJA ) dimulai dengan uji coba pada tahun 1992. Ternyata uji coba tersebut berhasil, sehingga menarik minat masyarakat dan pengusaha untuk berusaha budidaya ikan dengan KJA. Dari tahun ke tahun peminat usaha budidaya ikan semakin banyak, sehingga unit KJA  yang ditempatkan di danau Maninjau semakin banyak. Setelah usaha budidaya ikan itu dilaksanakan selama 5 tahun, maka pada tahun 1997 pertama kali bencana kematian ikan massal terjadi sampai ratusan ton.

Semula pembudiday menduga kematian ikan itu disebabkan oleh racun belerang, hal ini mengingat danau Maninjau adalah danau yang berasal dari letusan  gunung berapi. Kalau racun itu berasal dari belerang harus terjadi setiap tahun, oleh sebab itu seperti terjadi di tempat lain yaitu seperti di danau buatan ( dam ) Cirata terjadi kematian ikan yang terutama disebabkan oleh penumpukan kotoran ikan yang berlangsung bertahun tahun. Di danau Maninjau dengan kekuatan angin darek ( darat ), kotoran ikan ( racun ) dari dasar danau terangkat ke permukaan sehingga mematikan ikan

Walaupun kematian ikan yang dibudidayakan terjadi setiap tahun, tidak menyebabkan  .para pembudidaya ikan kapok dan berhenti berusaha. Hal ini menunjukkan mungkin setelah dihitung masih menguntungkan atau pembudidaya masih punya modal kerja untuk tetap melaksanakan usaha. Setelah  cuaca tenang, para pembudidaya ikan yang biasanya dimulai oleh kelompok perempuan melaksanakan usaha budidaya ikan kembali. Keputusan untuk melaksanakan usaha kembali adalah perempuan sebagai istri dan pengelola keuangan keluarga, sedangkan bapak bapaknya masih stress karena kegagalan usaha.

Apabila kematian ikan yang dibudidayakan di danau Maninjau tidak dihindarkan atau dicegah maka kematiab ikan akan terus terjadi setiap tahun. Kejadian ini merupakan suatu pemborosan modal usaha dan lama kelamaan simpanan modal usaha akan habis, sehingga pembudidaya dan keluarganya akan jatuh miskin. Akibat lain dari kematian ikan di danau yang tidak ditangani secara tuntas membuat lingkungan tidak nyaman, karena bau busuk   menyebar ke sekeliling danau. Sedangkan di pinggir danau terdapat hotel dan restoran tempat menginap dan makan para wisatwan. Bau busuk ikan ini berdampak terhadap berkurangnya minat wisatawan untuk berkunjung ke danau Maninjau. .

Kematian ikan terjadi secara beraturan yaitu pada akhir tahun ( sekitar Desember ) dan awal tahun ( sekitar januari ) yaitu pada saat datang angin kecang seperti badai, kalau di laut disebut angin barat. Oleh sebab itu kematian ikan di danau dapat dihindari dengan tidak membudidayakan pada bulan bulan datang angin kencang. Jadwal usaha budidaya ikan di danau maninjau dalam setahun cukup 8 bulan saja, sedangkan 4 bulan untuk istirahat atau usaha lain. Dengan mengistirahatkan danau dari usaha budidaya ikan, maka lingkungan air danau kembali bersih dan udara sekitar danau kembali segar dan sejuk, sehingga tidak menggangu kegiatan pariwisata.

Kematian ikan juga bisa dicegah dengan cara pembuangan kotoran ikan secara terus menerus dengan penggelontoran air deras. Pada waktu sebelum ada Pembangkit Listrik Tenaga Air ( PLTA ) Maninjau yang diresmikan tahun 1983, penggelontoran lewat muara danau Batang Antokan. Dengan adanya PLTA Maninjau kekuatan penggelontoran berkurang, oleh sebab itu tanpa mengganggu kinerja PLTA Maninjau, penggelontoran yang ada harus dapat membuang kotoran ikan yang mengendap di dasar danau. Teknik yang dapat diterapkan yaitu teknik siphon dimana air yang keluar dari danau membawa kotoran ikan secara terus menerus..

Untuk dapat melaksanakan menghindar dan mencegah kematian ikan di danau Maninjau, perlu temu usaha para pemangku kepentingan ( stake holder ) yaitu duduk bersama untuk bermusyawarah. Hasil dari musyawarah berupa kesepakatan yang akan dijadikan dasar untuk membuat peraturan daerah ( PERDA ). Para pemangku kepentingan itu : 1) kelompok pembudidaya, 2) para pedagang sarana produksi, 3) para pedagang ikan grosir, 4) kelompok pengusaha hotel dan restoran ( PHRI ), 5) otoritas PLTA Maninjau, 6) Pemda Kabupaten Agam. Musyawar ini penting untuk mencegah komplik social yang akan merugikan semua pihak.

Sumber: http://kkp.go.id/index.php/arsip/c/7730/BUDIDAYA-IKAN-DI-DANAU-MANINJAU-PERLU-SINERGI-DENGAN-PARIWISATA/?category_id=30

BUDIDAYA IKAN NILA GIFT (Oreochromis niloticus bleeker)

oreocromis niloticus bleeder

Ikan Nila GIFT (Oreochromis niloticus bleeker) merupakan jenis ikan air tawar yang mudah dikembangbiakkan dan toleransinya yang tinggi terhadap perubahan lingkungan maupun kemudahan pemeliharaannya. Rasanya cukup gurih dan di gemari masyarakat Indonesia.

Jenis Ikan Nila diantaranya Citralada, tralada, lokal dan Nila GIFT yang masuk ke Indonesia pada tahun 1984 dan 1996 dari ICLARAM Philipina melalui Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (Balitkanwar).

Teknik pembesaran Ikan Nila terapannya sangat mudah dilakukan sekali, baik dilakukan. skala rumah tangga atau skala besar (perusahaan). Tempatnya pun dapat dilaksanakan pada kolam tanah, kolam tembok dan Keramba jaring Apung (KJA).

Untuk pemasarannya sangat luas baik dalam negeri maupun luar negeri (ekspor) seperti masyarakat Jepang dan Singapura, terutama ukuran yang berat badannya di atas 500 gram. Bagi konsumsi dalam negeri akan banyak menunjang usaha perbaikan gizi keluarga.

Dilihat dari prospeknya, baik dalam maupun luar negeri sangat menjanjikan, sehingga perlu langkah yang pasti untuk meningkatkan produksi agar kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri dapat terpenuhi.

PEMBESARAN IKAN NILA

Teknik pembesaran Ikan Nila GIFT terapannya ada 3 (tiga) macam, yaitu:

a. Monoculture (Pemeliharaan Tunggal).

Luas lahan kolam pembesaran bervariasi, tergantung lahan yang tersedia. Dapat berupa kolam tanah, kolam, berdinding tembok, Kolam Air Deras (KAD) dan Keramba Jaring Apung (KJA).

Air yang digunakan untuk pemeliharaan harus bebas polusi baik yang berasal dari limbah industri, pertanian maupun Limbah rumah tinggal. Debit air 1- 5 It/ detik untuk luas selahan 100 m2.

b. Polyculture (Pemeliharaan Campuran dengan Ikan lain).

Pemeliharaan Ikan Nila dapat juga dilakukan secara polyculture (campuran) dengan jenis ikan lain, syaratnya ikan yang dimasukkan tidak merupakan pesaing (kompetitor) atau pemangsa (predator) bagi ikan Nila. jenis serta prosentase masing-masing ikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

c. Terpadu Longyam (Balong Ayam) dan Unggas lainnya.

Untuk meningkatkan produksi, pemeliharaan Ikan Nila dapat dilakukan bersama dengan pemeliharaan unggas. Berdasarkan dari pengalaman yang sudah banyak dilakukan, pemeliharaan Ikan Nila yang menguntungkan bila dipadukan dengan ayam petelur.

PERSIAPAN KOLAM

  • Persiapan Kolam pemeliharaan Ikan Nila meliputi :
  • Pengeringan kolam;
  • Perbaikan pematang, saluran pemasukkan dan pengeluaran;
  • Pengapuran dengan ukuran 25-1000 gram/m2;
  • Pemupukan dengan pupuk kandang 500 gram/ M2, urea 15 gram/ m2 dan TSP gram/ m2.;
  • Pengisian air kolam;
  • Dapat dilakukan penyemprotan dengan pestisida;
  • Untuk mencegah h.ewan/ ikan lain masuk, maka dapat dipasang saringan pada pintu masuk air;
  • Masukkan air sampai kedalaman 80 – 150 cm, kemudian tutup pintu pemasukkan dan pengeluarannya, biarkan air tergenang;
  • Penebaran Ikan Nila dilakukan setelah 5 – 7 hari pengisian air kolam.

PENEBARAN BENIN IKAN NILA

Ukuran benih Ikan Nila yang disebarkan berukuran 8 – 12 cm atau ukuran berat 30 gram/ ekor dengan padat tebar 5 – 10 ekor/ m2 serta lama pemeliharaan, 6 bulan hingga ukuran berat Ikan Nila mencapai 400 – 600 gram/ekor. Atau juga, untuk padat penebaran benih Ikan Nila dapat dilihat di bawah ini :

Ukuran (cm) Densitas (m2)
1 – 3 125
4 – 6 50
6 – 8 20
8 – 12 10

PEMBERIAN PAKAN

Komposisi makanan yang diberikan untuk Ikan Nila selain makanan alami dapat diberikan makanan tambahan. yang diusahakan secara intensif, yaitu berupa dedak, ampas kelapa, pellet atau sisa-sisa makanan dapur.

• Pada dasarnya pemberian pakan terdiri dari:
• Protein 20-30%;
• Lemak 70% (maksimal.);
• Karbohidrat 63 – 73%.
• Pakanyaberupa hijau-hijauan diantaranya adalah :
• Kaliandra;
• Kalikina atau kecubung;
• Kipat,
• Kihujan.

PENYAKIT

Penyakit Ikan Nila yang, paling serius adalah yang disebabkan oleh lingkungan dan keadaan yang tidak menyenangkan, seperti terlalu padat, kekurangan makanan, penanganan yang kurang baik dsb. Penanggulangan yang paling baik dan efektif dengan cara memberikan kondisi yang lebih baik pada kolam ikan tersebut.

Sekali kolam ikan terlanda penyakit yang serius biasanya terlambat untuk melakukan tindakan apapun. Penyembuhan dengan memberikan antibiotic atau fungisida ke seluruh kolam memerlukan biaya yang cukup mahal.

Oleh karma itu melakukan pencegahan akan lebih murah dibandingkan dengan melakukan pengobatan, yaitu dengan jalan lain melakukan pengeringan pada kolam dan melakukan penyiapan dari permulaan.

PEMANENAN

Setelah masa pemeliharaan 4 – 6 bulan, Ikan Nila dapat dipanen. Pada saat panen total ukuran ikan bervariasi di atas 50 gram/ ekor.

Sistem pemanenan dapat juga dilakukan secara bertahap, dimana hanya dipilih ukuran konsumsi (pasar). Pada tahap pertama dengan menggunakan jaring dan setiap bulan berikutnya secara bertahap.

Teknik memanen yang paling mudah dan murah dengan cara mengeringkan kolam secara total atau sebagian. Bila ikan dipanen secara keseluruhan, maka kolam dikeringkan sama sekali. Akan tetapi apabila akan memanen sekaligus maka hanya sebagian air yang dibuang.

Selama panen air segar perlu dialirkan ke dalam kolam untuk mencegah agar ikan tidak banyak yang mati. Ikan akan berkumpul di bak -bak (kubangan) penangkapan atau dalam saluran, kemudian diserok/ditangkap.

Setelah panen selesai, kolam pemeliharaan dikeringkan dan dilakukan persiapan kembali untuk pemeliharaan berikutnya.

sumber : Dinas Perikanan Provinsi Jabar, 2008

Ikan Asli Papua Perlu Diinventarisir & Dilestarikan Agar Tak Punah

Papua

Provinsi Papua memiliki Potensi sumber daya perikanan tangkap Perairan Umum Daratan (PUD) yang sangat besar, bahkan secara nominal dapat dikatakan sangat luas, katakan saja PUD yang sudah sangat familiar adalah Danau Sentani, Danau Paniai, dan Danau Tage yang merupakan danau terluas dan terbesar di Papua serta cukup untuk perkembangbiakan perikanan tangkap. Belum lagi, sungai-sungai yang dimiliki Papua, yang didalamnya menyimpan aneka ragam hayati yang beberapa diantaranya merupakan ikan asli atau populasinya hanya ada di Papua.

Kaitannya dengan hal ini, Dinas Kelautan dan Perikanan Papua menghimbau instansi terkait diwilayah kabupaten untuk kembali melakukan inventarisasi ikan asli Papua yang ada di danau maupun sungai. Disamping itu, melakukan pelestarian agar ikan-ikan tersebut tidak punah pada waktu-waktu mendatang oleh karena adanya penangkapan secara besar-besaran oleh masyarakat nelayan. Karena potensi ikan asli kalau kita tidak jaga dan lestarikan suatu saat akan punah. Contoh di Sentani, ada ikan Gabus Malas yang sangat dominan tapi sekarang sudah tidak karena sudah didominasi oleh ikan lain seperti ikan gastor. Bahkan sudah ada ikan merah yang sebelumnya belum ada di Danau Sentani. Maka itu, ini perlu di identifikasi dan dicari tahu sumbernya darimana, imbau Kepala Bidang Sumber Daya Kelautan, Dinas Kelautan Provinsi Papua, Julius Papilaya, pada pembukaan forum koordinasi pengelolaan sumber daya perikanan tangkap Perairan Umum Daratan (Fodilafeta-PUD), Kamis kemarin, di Hotel Andalucia Jayapura.

Menyinggung tentang potensi PUD di Papua, kata Julius, Papua sangat memiliki potensi yang besar bagi perekonomian seperti di Merauke, yang masyarakat sekitar daerah rawa, sudah bisa hidup dan berkembang dengan hasil penangkapan ikan arwana. Sementara di Danau Sentani, sudah berkembang pesat keramba dan kegiatan penangkapan. Oleh karena itu, Dinas Kelautan dan Perikanan harus mulai melakukan penataan. Maka itu, melalui forum ini kita harap ada kesepakatan untuk melakukan penataan lebih baik lagi.

Disamping itu, ada program yang coba dikembangkan KKP, yang disini kita melihat sejauh mana kesiapan kita didaerah menyambut program tersebut, tuturnya. Berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan forum, Julius menambahkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan mencoba memberikan perhatian yang lebih besar agar seluruh PUD di daerah dapat dikelola dengan baik dan lestari. Maka itu, sekali lagi perlu adanya data dan penginventarisiran kembali ikan asli PUD yang ada di Kabupaten masing-masing. Dilain pihak, perlu diprogramkan kegiatan selama lima tahun kedepan sehingga dapat menjadi model minapolitan PUD. Diharapkan juga melalui kegiatan ini ada rumusan untuk tindaklanjut kegiatan forum di tingkat nasional nanti, tutupnya.

Kegiatan forum koordinasi pengelolaan sumber daya perikanan tangkap Perairan Umum Daratan ini, secara resmi dibuka oleh Kepala Bidang Sumber Daya Kelautan, Dinas Kelautan Provinsi Papua, Julius Papilaya mewakili Kepala Dinas. Kegiatan selama dua hari tersebut, dihadiri sekitar 11 peserta dari DKP Papua, Dinas Kabupaten/Kota, Kabupaten Paniai dan Jayawijaya. Tujuan kegiatan forum adalah untuk mencapai kesepakatan dalam pengelolaan dan pemanfaatan SDA perikanan tangkap PUD, dengan sasaran guna menghasilkannya suatu rumusan kesepakatan dalam pengelolaan SDA perikanan tangkap PUD di Papua.

Sumber: http://kkp.go.id/index.php/arsip/c/4627/Ikan-Asli-Papua-Perlu-Diinventarisir-Dilestarikan-Agar-Tak-Punah/?category_id=30